IHSG Kembali Menguat Usai Catat Rekor Baru
1 min read

IHSG Kembali Menguat Usai Catat Rekor Baru

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau fluktuatif di awal perdagangan hari ini, Kamis (6/11/2025). Namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik ke level 8.354.

Pada penutupan perdagangan, Rabu (5/11/2025),  IHSG menembus rekor baru di level 8.318,53. Penguatan IHSG ini disertai beli bersih (net buy) oleh investor asing sebesar Rp1,23 triliun. 

Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBCA, BRMS, TLKM, BMRI dan ASII. “Hari ini IHSG berpotensi mencoba menguat kembali,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Kamis (6/11/2025).

Menurutnya, IHSG akan bergerak di rentang 8.200-8.270 untuk level support. Sedangkan, level resistansi di rentang 8.350-8.380.

Penguatan IHSG tidak lepas dari sentimen positif pasar dalam melihat data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2025.  Perekonomian Indonesia menunjukkan daya tahannya di tengah tekanan ketidakpastian global.

“Data PDB pada triwulan III menunjukkan kondisi permintaan domestik dan eksternal yang sangat baik. Hal ini mendorong optimisme pasar, tercermin dari IHSG yang kemarin menembus level 8.300 untuk pertama kalinya,” kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Dengan perkembangan itu, ada harapan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV akan lebih tinggi. “Bahkan terdapat peluang akan lebih tinggi dibandingkan triwulan II yang sebesar 5,12 persen,” ucap Rully. 

Menurutnya, setelah ini pasar dalam negeri akan menunggu hasil dari rebalancing indeks MSCI.  Hal ini berpotensi memicu arus modal masuk atau keluar.

Selain itu, memicu rotasi portofolio di beberapa saham big caps (berkapitalisasi besar) atau sektor tertentu. “Kami memperkirakan dalam rebalancing MSCI Indonesia bulan ini yang berpotensi untuk masuk adalah saham BRMS,” ujar Rully.

Saham perusahaan Bumi Resources Minerals Tbk itu akan masuk MSCI dengan harga saham.dan kapitalisasi pasar yang memadai. Proses rebalancing MSCI, ujarnya, selalu diawasi oleh investor global institusional.

“Karena komposisi baru indeks akan mendorong alokasi dana secara pasif.  Baik inflow maupun outflow sesuai perubahan konstituen,” kata Rully menutup analisisnya. Dikutip dari RRI.co.id