MUI Usulkan Pembentukan Badan Riset Keagamaan, Fokus pada Pengembangan Ilmu Islam
Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan (KPPP) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pembentukan badan khusus riset keagamaan. Gagasan ini muncul dalam kegiatan Sosialisasi Hasil Riset dan Inovasi KPPP MUI yang digelar di Kantor MUI, Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Ketua KPPP MUI, Firdaus Syam, mengatakan bahwa usulan tersebut lahir dari aspirasi peserta sosialisasi. Menurutnya, penguatan kelembagaan menjadi langkah penting agar MUI dapat lebih optimal dalam menjalankan peran riset dan pengembangan di bidang keagamaan.
“Peserta berharap komisi ini ditingkatkan jadi badan tersendiri. Hal tersebut nantinya untuk memperkuat fungsi riset dan pengembangan MUI,” ujar Firdaus.
Momentum Jelang Munas MUI 2025
Firdaus menyebut kegiatan sosialisasi ini menjadi momentum penting bagi KPPP MUI, sekaligus menjadi kegiatan penutup menjelang Musyawarah Nasional (Munas) MUI yang akan berlangsung pada 20–23 November 2025.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan mitra akademisi yang telah mendukung kegiatan riset keislaman.
“Kami menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga pemerintah. MUI akan bersama BRIN, Kemenag, Kemendagri, BNPT, perlu bersinergi dalam riset keagamaan ini,” tambahnya.
Tiga Nilai Penting Riset Keagamaan MUI
Ketua MUI Bidang KPPP, Utang Ranuwijaya, menilai kegiatan riset keagamaan MUI sangat strategis karena memuat nilai-nilai yang dapat diwariskan untuk generasi berikutnya.
“Pertama, legacy atau warisan; kedua, guidance atau panduan; dan ketiga, mirror atau cermin bagi pengurus berikutnya,” ujar Utang.
Ia menegaskan bahwa MUI telah menyusun panduan dan kode etik, termasuk penjabaran sepuluh kriteria aliran sesat agar masyarakat lebih memahami batas-batas ajaran Islam yang benar.
Kinerja Komisi Pengkajian Dinilai Meningkat
Menurut Utang, Komisi Pengkajian MUI periode ini telah bekerja dengan sangat maksimal, bahkan menunjukkan peningkatan kinerja dibanding periode sebelumnya.
Ia berharap pengurus MUI mendatang dapat melanjutkan dan memperkuat peran riset serta inovasi keislaman.
“Siapa yang harinya lebih baik dari kemarin, dialah orang beruntung,” tutup Utang.
Dikutip dari RRI.co.id
