Indeks Wall Street Ambles Usai Saham Teknologi Merosot
3 mins read

Indeks Wall Street Ambles Usai Saham Teknologi Merosot

Indeks S&P 500 ditutup melemah pada Rabu, 17 Desember 2025, memperpanjang tren penurunan dalam beberapa sesi terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh anjloknya saham Oracle dan Nvidia yang memperburuk sentimen investor terhadap perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dikutip dari Investing.com, Kamis, 18 Desember 2025, Dow Jones Industrial Average turun 228 poin atau 0,5 persen. Indeks S&P 500 melemah 1,2 persen, sementara NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi merosot 1,8 persen.

Tekanan utama datang dari saham Oracle Corporation yang anjlok lebih dari lima persen. Penurunan terjadi setelah muncul laporan bahwa Blue Owl Capital tidak akan mendukung proyek pusat data AI Oracle senilai USD10 miliar di Michigan, yang sebelumnya diharapkan akan digunakan untuk OpenAI.

Blue Owl Capital disebut telah melakukan pembicaraan dengan Oracle dan para pemberi pinjaman terkait potensi investasi dalam proyek pusat data berkapasitas 1 gigawatt di Saline Township. Namun, diskusi tersebut akhirnya terhenti tanpa kesepakatan.

Saham Oracle menjadi sorotan utama dalam kekhawatiran investor terhadap pembangunan pusat data AI. Pasar menilai proyek-proyek tersebut membutuhkan belanja modal besar, dengan ketidakpastian terkait tingkat pengembalian investasi serta sifat bisnis yang dinilai siklikal.

Dalam tiga bulan terakhir, saham Oracle tercatat telah turun lebih dari 41 persen, meskipun secara year to date masih mencatatkan kenaikan sekitar 14 persen. Sentimen negatif ini turut menekan saham AI lainnya, dengan Broadcom Inc dan NVIDIA Corporation memimpin pelemahan di sektor tersebut.

Di sisi kebijakan moneter, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bahwa bank sentral AS masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga di tengah tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja.

“Saya masih berpikir kita mungkin sekitar 50 hingga 100 basis poin dari tingkat netral,” ujar Waller dalam KTT CEO Yale School of Management di New York. Pernyataan tersebut mengindikasikan masih adanya ruang bagi The Fed untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.

Waller menegaskan bahwa tidak ada urgensi untuk segera menurunkan suku bunga secara agresif. Menurutnya, The Fed dapat menurunkan suku bunga secara bertahap menuju level netral, seiring dengan prospek inflasi yang diperkirakan tetap moderat.

The Fed sendiri telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan lalu untuk menopang pasar tenaga kerja, meskipun tekanan inflasi dinilai masih bertahan. Data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS melemah, ditandai dengan kenaikan tingkat pengangguran ke level tertinggi dalam empat tahun, meski pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian pada November melampaui ekspektasi.

Indikator ekonomi lainnya juga mengonfirmasi perlambatan ekonomi AS. Data indeks manajer pembelian (PMI) Desember menunjukkan pertumbuhan sektor manufaktur dan jasa lebih rendah dari perkiraan, sementara data penjualan ritel Oktober mencatat pertumbuhan yang melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Komentar Waller menjadi perhatian pasar setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump berencana mewawancarainya sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya. Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Fed dijadwalkan berakhir pada Mei mendatang.

Sebelumnya, Trump disebut lebih memfavoritkan mantan Gubernur Fed Kevin Warsh dan penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett sebagai kandidat utama. Meski demikian, Waller—yang diangkat sebagai Gubernur Fed oleh Trump—dinilai sebagai kandidat dengan peluang lebih kecil karena tidak memiliki kedekatan personal sekuat kandidat lainnya.

Dikutip dari metrotvnews.com