Menteri Agus Tekankan Reformasi Pemasyarakatan Lewat Inisiatif Beyond Beauty
3 mins read

Menteri Agus Tekankan Reformasi Pemasyarakatan Lewat Inisiatif Beyond Beauty

Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) mendorong reformasi lembaga pemasyarakatan (lapas) melalui program Beyond Beauty yang ditampilkan dalam ajang Bali Fashion Trend (BFT). Acara tersebut digelar di Onyx Park Resort, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat (19/12/2025).

Melalui program Beyond Beauty, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bekerja sama dengan Indonesia Fashion Chamber (IFC) menghadirkan karya fashion hasil kolaborasi desainer ternama dengan warga binaan dari 24 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di berbagai daerah.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menegaskan bahwa program Beyond Beauty mencerminkan perubahan paradigma pemasyarakatan di Indonesia. Pemasyarakatan tidak lagi dipandang semata sebagai tempat menjalani hukuman, melainkan sebagai ruang pembinaan yang memberi kesempatan kedua bagi warga binaan untuk kembali berperan produktif di masyarakat.

“Kolaborasi ini bukan hanya tentang fashion atau produk. Ini tentang manusia, tentang harapan, dan tentang masa depan yang lebih baik bagi warga binaan pemasyarakatan,” ujar Agus melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/12/2025).

Melalui Beyond Beauty, warga binaan dilibatkan secara aktif sebagai co-creator dalam industri fashion profesional. Beragam produk hasil pembinaan seperti batik, anyaman, bordir, hingga kerajinan kulit dikembangkan bersama para desainer, antara lain Sofie, Lisa Fitria, dan Irmasari, menjadi karya fashion kontemporer yang memiliki nilai estetika serta daya saing komersial.

Agus menilai, proses kolaboratif tersebut tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan identitas positif warga binaan.

“Ketika karya mereka diapresiasi publik dan pasar, di situlah proses pemulihan harga diri dan kepercayaan diri benar-benar terjadi,” ungkapnya.

Karya Warga Binaan Tembus Pasar Internasional

Selain mendapatkan apresiasi publik, karya hasil kolaborasi ini mulai menarik minat pasar internasional. Salah satu desainer, Sofie, mengungkapkan bahwa dalam rangkaian Bali Fashion Trend telah diterima permintaan awal dari pembeli asal Prancis dan Malaysia.

Minat tersebut dinilai sebagai sinyal positif atas kualitas dan daya saing produk hasil pembinaan warga binaan pemasyarakatan di pasar global.

Salah satu koleksi yang ditampilkan memadukan batik tradisional dengan desain urban modern kontemporer bergaya street wear. Seluruh proses produksinya melibatkan warga binaan dari sejumlah lapas, antara lain Lapas Jambi, Bengkulu, Manado, Malang, Semarang, Pontianak, Sumenep, dan Madiun. Secara keseluruhan, terdapat 24 unit lapas yang terlibat dalam kolaborasi ini.

Karya-karya tersebut dipersiapkan melalui pendampingan intensif, mulai dari pengembangan desain hingga pemenuhan standar kualitas produk siap pasar.

Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Indonesia Fashion Chamber atas komitmennya membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, langkah ini mencerminkan peran aktif industri fashion dalam mendorong tanggung jawab sosial sekaligus memperkuat ekosistem kreatif nasional.

Program kolaborasi ini sejalan dengan arah reformasi pemasyarakatan serta implementasi nilai-nilai KUHP Baru 2025 yang menekankan pendekatan rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Dari sisi sosial dan psikologis, program ini membantu memulihkan kepercayaan diri warga binaan. Dari sisi sistemik, kolaborasi tersebut menjadi model integrasi pemasyarakatan dengan industri kreatif yang berpotensi direplikasi di berbagai daerah.

Ke depan, Kementerian Imipas berkomitmen mengembangkan program kolaborasi secara berkelanjutan melalui perluasan kerja sama dengan lebih banyak desainer dan brand fashion nasional, penguatan akses pemasaran produk warga binaan ke pasar domestik dan internasional, serta peningkatan kapasitas pembinaan di unit pelaksana teknis pemasyarakatan.

“Setiap warga binaan memiliki potensi untuk berubah dan berkontribusi. Tugas negara adalah membuka jalan, memberi kesempatan, dan menumbuhkan kepercayaan,” tegas Agus.

Melalui Bali Fashion Trend, kolaborasi antara pemasyarakatan dan industri fashion ini diharapkan tidak hanya menghasilkan karya kreatif bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi inspirasi lahirnya kerja sama transformatif lainnya.

Dikutip dari metrotvnews.com