IHSG Awali Perdagangan dengan Koreksi, Berpotensi Menguat Jelang Tutup Tahun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,20 persen ke level 8.627.
Padahal, pada perdagangan Senin (29/12), IHSG ditutup menguat tajam sebesar 1,25 persen ke posisi 8.644. Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai, meski dibuka di zona merah, IHSG masih berpeluang menguat menjelang penutupan tahun.
“IHSG berpotensi menguat pada penutupan tahun,” ujar Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa (30/12/2025).
Menurut Phintraco, secara teknikal IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level resistance di kisaran 8.670–8.725, selama indeks mampu bertahan di atas level support 8.630.
Memasuki awal tahun 2026, perhatian investor diperkirakan akan tertuju pada sejumlah data indikator ekonomi domestik. Salah satunya adalah rilis indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia untuk Desember 2025.
“Indeks S&P Global Manufacturing PMI Desember 2025 diperkirakan sedikit naik, dari level 53,3 pada November menjadi 53,3 pada Desember,” ujar Tim Phintraco.
Dari sisi inflasi, inflasi bulanan Desember 2025 diperkirakan berada di level 0,2 persen, meningkat dibandingkan November yang sebesar 0,17 persen. Sementara itu, inflasi tahunan Desember 2025 diproyeksikan sebesar 2,5 persen, menurun dari 2,72 persen pada November.
Selain faktor domestik, sentimen global juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Investor akan mencermati rilis risalah pertemuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, pada Desember.
“Pasar berekspektasi The Fed akan mendekati akhir siklus pengetatan kebijakan moneternya,” kata Tim Phintraco.
Menjelang penutupan tahun, investor juga menantikan rilis data Manufacturing PMI Tiongkok bulan Desember 2025. PMI manufaktur Tiongkok diperkirakan menunjukkan perbaikan tipis dibandingkan bulan sebelumnya, yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham regional, termasuk Indonesia.
Dikutip dari RRI.co.id
