Kredit di Vietnam Naik Signifikan, Tembus 19% Tahun Lalu
1 min read

Kredit di Vietnam Naik Signifikan, Tembus 19% Tahun Lalu

Pertumbuhan kredit Vietnam pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 19 persen, menjadi tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Deputi Gubernur Bank Sentral Vietnam (SBV) Pham Thanh Ha mengungkapkan kredit outstanding sistem perbankan hingga 24 Desember 2025 meningkat 17,87 persen dibanding awal tahun, mencapai VND18.400 triliun atau sekitar Rp11.823 triliun.

Kepala Departemen Kebijakan Moneter SBV, Pham Chi Quang, menekankan bahwa angka tersebut sangat tinggi dan telah dilaporkan kepada otoritas atasan. Rasio kredit terhadap PDB Vietnam kini mencapai 146 persen, tertinggi di antara negara berpendapatan menengah-bawah. Quang juga memperingatkan risiko struktural perbankan, di mana sekitar 80 persen pendanaan bersifat jangka pendek sementara separuh pinjaman berjangka menengah-panjang, menciptakan ketidaksesuaian yang berisiko.

Pertumbuhan kredit yang hampir 18 persen melampaui pertumbuhan simpanan sekitar 14 persen, menambah tekanan pada likuiditas sistem, terutama menjelang Tahun Baru Imlek. Bank-bank juga menghadapi persaingan ketat dari saluran investasi lain, sehingga mobilisasi dana menjadi lebih menantang. SBV telah menggunakan berbagai alat kebijakan moneter, termasuk operasi pasar terbuka dan mekanisme swap valuta asing baru, untuk menjaga stabilitas likuiditas sistem.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8,3–8,5 persen untuk 2025, didorong oleh ekspor, arus masuk FDI, ekspansi investasi publik, dan konsumsi domestik. Majelis Nasional Vietnam menyetujui target pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen untuk 2026 dengan inflasi sekitar 4,5 persen. Namun, Dewan Penasihat Kebijakan Keuangan dan Moneter Nasional merekomendasikan agar kebijakan moneter lebih berhati-hati pada 2026.

Deputi Perdana Menteri Ho Duc Phoc memperingatkan tahun 2026 akan tetap menantang dengan tekanan modal signifikan, serta risiko suku bunga, kredit macet, nilai tukar, dan obligasi korporasi. Di sisi lain, Dao Xuan Tuan dari Departemen Manajemen Valas SBV menyebut sembilan aplikasi izin produksi batangan emas sedang dievaluasi bersama kementerian terkait untuk memastikan kepatuhan regulasi.

SBV juga menilai prospek pendirian bursa perdagangan emas di Vietnam, sambil memperhatikan tekanan inflasi yang belum melambat, terutama dari biaya perumahan, material konstruksi, dan layanan kesehatan. Kondisi ini membatasi ruang Bank Sentral Vietnam untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Dikutip dari metrotvnews.com