Ketegangan Geopolitik Amerika Serikat–Iran Dorong Harga Minyak Melampaui USD100 per Barel
Harga minyak dunia masih stabil dengan kecenderungan menguat pada Jumat, 3 April 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Berdasarkan laporan FXStreet, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat stabil di sekitar USD103,80 per barel. Harga minyak acuan Amerika Serikat tersebut bahkan telah naik lebih dari 10 persen dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak setelah pernyataan terbaru dari Presiden AS Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman terhadap Iran.
Sementara itu, harga minyak Brent Crude dilaporkan berada di level USD112,42 per barel, naik sekitar 73 sen dibandingkan harga sehari sebelumnya dan sekitar USD34 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ketegangan di Selat Hormuz
Presiden Trump memperingatkan kemungkinan tindakan militer yang diperkuat terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Namun, ia tidak memberikan penjelasan rinci mengenai langkah konkret untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur sipil Iran tidak akan membuat negaranya mundur.
Ia bahkan menyebut langkah tersebut sebagai bukti bahwa pihak lawan sedang mengalami kekacauan dan kemunduran moral.
Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa Iran bersama Oman tengah menyiapkan protokol pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa Teheran sedang menyelesaikan rancangan awal sebelum memulai pembicaraan resmi dengan Oman guna membentuk kerangka kerja pengawasan bersama.
Sementara itu, Inggris menggelar diskusi virtual bersama sekitar 40 negara untuk membahas kemungkinan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, Amerika Serikat tidak ikut berpartisipasi dalam pertemuan tersebut setelah Presiden Trump menyatakan bahwa pembukaan kembali jalur tersebut bukan merupakan tanggung jawab negaranya. Ia bahkan mendorong negara-negara Eropa untuk mengambil langkah sendiri dalam mengamankan pasokan minyak mereka.
