Budaya Kuliner Jawa Kuno: Makanan Kukusan Sehat Kini Jadi Viral
menu sarapan di pinggir jalan. Meski kini jadi tren, makanan lokal ini sejatinya sudah menjadi kebiasaan makan masyarakat sejak zaman Jawa kuno.
Seporsi menu kukusan umumnya berisi potongan aneka umbi seperti ubi jalar, ubi ungu, singkong, hingga labu kuning. Beberapa penjual menambahkan jagung, pisang, kacang, hingga edamame. Harga seporsi kukusan kini berkisar antara Rp5.000–Rp10.000, tergantung isian yang dipilih. Generasi muda percaya sarapan kukusan dapat membuat tubuh lebih sehat.
Menurut pakar kuliner sekaligus Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Murdijati-Gardjito, kebiasaan makan ini telah menjadi bagian dari pengetahuan dan teknologi pangan alami sejak zaman Jawa kuno.
“Pengetahuan mengenai hasil bumi berkembang menjadi makanan untuk kesehatan. Ada pembagian konsumsi mutih, ngrowot, dan ngalong. Orang Jawa sudah punya teknologi alami sejak zaman kuno,” ujar Prof. Mur, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut, Prof. Mur menjelaskan bahwa masyarakat Jawa membagi hasil bumi menjadi lima kategori:
- Polo Kependem – hasil bumi yang tumbuh di dalam tanah, seperti ubi jalar, singkong, talas, garut, dan ganyong.
- Pari – padi.
- Polowija – palawija, termasuk jagung, kacang, kedelai, dan biji-bijian lain.
- Pala Gemantung (Polo) – tanaman berbuah menggantung, seperti jambu, mangga, dan jeruk.
- Pala Kesimpar (Polo) – hasil bumi yang terletak di atas tanah, seperti labu kuning, parang, semangka, atau melon.
Setelah dikategorikan, masyarakat menyajikan hasil bumi sesuai kreasi masing-masing. Di Jawa Timur, polo kependem sering dihidangkan dengan cocolan saus petis. Sementara di Kalimantan dan Jawa Barat, hasil bumi yang dikukus atau direbus bisa disajikan dengan cara berbeda, mengikuti selera lokal.
Kembalinya tren kukusan ini menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga sehat dan relevan bagi gaya hidup modern.
Dikutip dari kumparan.com
