Dolar AS Kuat, Rupiah Memulai 2026 dengan Pelemahan
1 min read

Dolar AS Kuat, Rupiah Memulai 2026 dengan Pelemahan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat, 2 Januari 2026, mengalami pelemahan. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp16.699 per USD, turun 13 poin atau 0,08 persen dibandingkan Rp16.712 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya, mengutip data Bloomberg.

Sementara itu, menurut Yahoo Finance, rupiah berada pada level Rp16.715 per USD, melemah dibandingkan dengan pembukaan perdagangan yang sebesar Rp16.690 per USD. Fluktuasi rupiah cenderung menunjukkan tren pelemahan di awal tahun.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, berada pada kisaran Rp16.680 hingga Rp16.710 per USD.

Menurut Ibrahim, gerak rupiah masih dipengaruhi sentimen global, terutama risalah rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) AS pada Desember 2025. Risalah tersebut mengungkapkan perbedaan pandangan yang cukup tajam di antara pembuat kebijakan The Fed terkait arah suku bunga di 2026. Tekanan inflasi yang masih tinggi dan ketidakpastian prospek ekonomi global menjadi faktor utama.

Beberapa pejabat The Fed juga menekankan bahwa kebijakan moneter yang terlalu ketat berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi jika diterapkan terlalu lama. Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik global tetap menjadi risiko utama yang dapat memengaruhi rantai pasok dan memicu volatilitas harga komoditas, meskipun sesekali memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran lima persen mencerminkan stabilitas dan menjadi target realistis untuk tahun 2026. Namun, pemulihan ekonomi masih menghadapi tantangan, termasuk tekanan harga pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Perekonomian nasional tidak boleh hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga. Belanja pemerintah perlu diarahkan agar memberikan efek berganda lebih luas. Selain itu, sektor ekspor diharapkan mampu menghasilkan lebih banyak produk bernilai tambah tinggi guna memperkuat cadangan devisa,” ujar Ibrahim.

Dikutip dari metrotvnews.com