Emas Antam Lanjutkan Tren Penguatan, Harga Capai Rp2,665 Juta per Gram
1 min read

Emas Antam Lanjutkan Tren Penguatan, Harga Capai Rp2,665 Juta per Gram

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang dipantau melalui laman Logam Mulia di Jakarta, Rabu (14/1/2026), kembali mengalami kenaikan. Sejak 10 Januari 2026, harga emas Antam tercatat terus menguat dan kini naik Rp13.000 dari sebelumnya Rp2.652.000 menjadi Rp2.665.000 per gram.

Seiring dengan kenaikan harga jual, harga jual kembali atau buyback emas Antam juga mengalami peningkatan dan kini berada di level Rp2.513.000 per gram.

Dalam setiap transaksi jual beli emas batangan, terdapat ketentuan perpajakan yang berlaku. Penjualan kembali emas batangan kepada PT Antam Tbk dengan nilai di atas Rp10 juta dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.

Besaran PPh Pasal 22 tersebut ditetapkan sebesar 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen bagi non-NPWP. Pajak atas transaksi buyback ini dipotong langsung dari total nilai buyback.

Sementara itu, pembelian emas batangan juga dikenakan PPh Pasal 22 sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017. Tarif pajak pembelian emas batangan ditetapkan sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen bagi non-NPWP.

Setiap pembelian emas batangan Antam disertai dengan bukti potong PPh Pasal 22 yang diberikan kepada pembeli.

Berikut daftar harga pecahan emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia pada Rabu:

Harga emas 0,5 gram Rp1.382.500
Harga emas 1 gram Rp2.665.000
Harga emas 2 gram Rp5.270.000
Harga emas 3 gram Rp7.880.000
Harga emas 5 gram Rp13.100.000
Harga emas 10 gram Rp26.145.000
Harga emas 25 gram Rp65.237.000
Harga emas 50 gram Rp130.395.000
Harga emas 100 gram Rp260.712.000
Harga emas 250 gram Rp651.515.000
Harga emas 500 gram Rp1.302.820.000
Harga emas 1.000 gram Rp2.605.600.000

Kenaikan harga emas Antam ini sejalan dengan tren penguatan harga emas global serta meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dikutip dari antaranews.com