Hari Tuli Nasional 11 Januari: Jejak Sejarah dan Perjuangan Kesetaraan
Hari Tuli Nasional yang diperingati setiap 11 Januari menjadi penanda penting perjalanan panjang perjuangan komunitas Tuli di Indonesia dalam menuntut kesetaraan, pengakuan, dan akses yang adil di berbagai sektor kehidupan.
Peringatan ini tidak terlepas dari sejarah gerakan sosial komunitas Tuli yang lahir dari pengalaman diskriminasi, stigma sosial, serta keterbatasan akses pendidikan pada masa lalu. Hingga kini, Hari Tuli Nasional juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran publik bahwa inklusivitas merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Sejarah Penetapan Hari Tuli Nasional
Sejarah Hari Tuli Nasional berkaitan erat dengan tokoh Tuli bernama Aek Natas Siregar. Ia mengalami langsung keterbatasan akses pendidikan pada era 1950-an hingga 1960-an, ketika individu Tuli kerap dianggap tidak mampu mengikuti pendidikan formal.
Pada masa tersebut, stigma sosial dan hambatan birokrasi semakin memperkuat marginalisasi terhadap komunitas Tuli. Bersama Mumuh Wiraatmadja, Aek Natas Siregar kemudian menggalang solidaritas komunitas Tuli di Bandung sebagai awal kesadaran perjuangan kolektif.
11 Januari dan Lahirnya Organisasi Tuli Pertama
Tanggal 11 Januari merujuk pada berdirinya Serikat Kaum Tuli-Bisu Indonesia (SEKATUBI) di Bandung pada 11 Januari 1960. Organisasi ini tercatat sebagai organisasi Tuli pertama di Indonesia dan menjadi fondasi awal perjuangan hak-hak dasar komunitas Tuli.
SEKATUBI berfungsi sebagai ruang aman bagi komunitas Tuli untuk berbagi pengalaman, memperkuat identitas, serta menyusun agenda advokasi. Fokus utama organisasi ini adalah memperjuangkan akses pendidikan dan kesempatan kerja yang setara.
SEKATUBI didirikan oleh Aek Natas Siregar dan Mumuh Wiraatmadja bersama 42 anggota lainnya. Mereka secara kolektif menuntut pengakuan hak komunitas Tuli sebagai bagian setara dari warga negara Indonesia.
Dukungan Simbolis Presiden Soekarno
Setahun setelah pendirian SEKATUBI, para pendirinya menghadap Presiden Soekarno pada 1 Februari 1961. Pertemuan tersebut dilakukan melalui komunikasi tertulis mengingat keterbatasan akses komunikasi saat itu.
Presiden Soekarno memberikan dukungan moral melalui sepucuk surat doa. Dukungan tersebut dipandang sebagai bentuk pengakuan simbolis negara terhadap keberadaan dan perjuangan komunitas Tuli di Indonesia, sekaligus menambah semangat advokasi mereka.
Makna Hari Tuli Nasional
Kini, Hari Tuli Nasional diperingati melalui berbagai kegiatan edukatif seperti sosialisasi bahasa isyarat, diskusi publik, hingga kampanye kesadaran inklusivitas. Peringatan ini juga mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif di bidang pendidikan, layanan publik, dan ketenagakerjaan.
Hari Tuli Nasional menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan nilai yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata secara berkelanjutan oleh negara dan masyarakat.
Dikutip dari RRI.co.id
