IHSG Rebound Seiring Menguatnya Ekspektasi Penurunan Suku Bunga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan akhir pekan di zona hijau. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG naik tipis 0,11 persen ke level 8.555,66 pada pembukaan Jumat (28/11/2025).
Kenaikan ini terjadi setelah IHSG sempat melemah pada perdagangan Kamis (27/11), turun 0,65 persen ke level 8.545,86, disertai aksi jual berskala besar oleh investor asing atau net sell mencapai Rp884 miliar. Saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BUMI, BBRI, BBCA, INET, dan BMRI.
IHSG Berpotensi Rebound
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG memiliki peluang untuk rebound pada perdagangan hari ini. Ia memproyeksikan level support berada di rentang 8.480–8.520, sementara resistance berada pada rentang 8.570–8.600.
“Hari ini IHSG berpotensi rebound atau berbalik menguat,” ujarnya.
Sentimen Global: Wall Street Menguat Empat Hari Beruntun
Penguatan bursa global turut menjadi angin positif bagi pasar domestik. Di Wall Street, bursa saham Amerika Serikat kembali reli empat hari menjelang libur Thanksgiving.
Rebound saham teknologi dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada Desember mendorong kenaikan indeks:
- Dow Jones Industrial Average naik 0,67 persen
- S&P 500 menguat 0,69 persen
- Nasdaq Composite bertambah 0,82 persen
Di kawasan Asia, mayoritas bursa juga menguat pada Kamis, ditopang oleh meningkatnya keyakinan pasar bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga. Sentimen semakin menguat setelah laporan yang menyebut Kevin Hassett sebagai kandidat terkuat Ketua The Fed berikutnya.
Sentimen Domestik: Optimisme Pertumbuhan Ekonomi 2025
Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu perkembangan ekonomi makro Indonesia. Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan investor masih menilai apakah realisasi data ekonomi benar-benar akan lebih baik dari ekspektasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 diperkirakan mencapai 5,6–5,7 persen, sehingga pertumbuhan sepanjang tahun 2025 berpotensi berada di kisaran 5,2 persen.
“Kami menilai hal ini cukup mendorong optimisme pasar. Namun angka pertumbuhan tersebut terlalu optimistik mengingat kondisi ekonomi saat ini masih belum sepenuhnya pulih,” kata Rully.
Ia menambahkan bahwa ketidakpulihan ekonomi terlihat dari perlambatan pertumbuhan kredit pada Oktober serta masih banyaknya emiten yang mencatatkan kinerja di bawah ekspektasi analis.
Dikutip dari RRI.co.id
