INALUM dan MIND ID Perkuat Rantai Pasok Aluminium Indonesia bagi Kendaraan Listrik Dunia
Jakarta – Produksi aluminium Indonesia kini berpotensi memainkan peran strategis dalam rantai pasok industri otomotif global, terutama seiring meningkatnya permintaan aluminium untuk kendaraan listrik dan alat berat di berbagai negara industri besar.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menyatakan bahwa Indonesia melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) di bawah kendali holding tambang MIND ID, berada pada posisi penting dalam rantai pasok logam ringan dunia.
“Dengan mengontrol INALUM, Indonesia mampu mengontrol bahan baku bagi industri otomotif global, terutama Jepang dan Korea Selatan yang menguasai pasar dunia otomotif,” ujar Ferdy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/11/2025).
🌍 Permintaan Aluminium Dunia Terus Meningkat
Sejak 2017, kebutuhan aluminium global terus naik. Jepang memproyeksikan kebutuhan sebesar 2 juta ton untuk industri otomotif pada 2025, sedangkan Cina mencatat permintaan hingga 17,3 juta ton untuk sektor kendaraan listrik, konstruksi, dan energi terbarukan.
Kebutuhan besar ini membuat aluminium menjadi logam penting dunia. Setiap kendaraan listrik rata-rata membutuhkan 300–400 kilogram aluminium dalam struktur bodinya.
“Industri otomotif dunia yang sedang bertransisi ke kendaraan listrik sangat bergantung pada pasokan aluminium,” jelas Ferdy.
⚙️ INALUM Jadi Kunci Produksi Aluminium Nasional
INALUM saat ini memiliki kapasitas produksi lebih dari 300 ribu ton aluminium per tahun, menjadikannya produsen terbesar di Asia Tenggara. Untuk memperkuat rantai pasok, kebutuhan alumina sebagai bahan baku kini didukung oleh proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Fasilitas yang dikembangkan bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mampu memproduksi 1 juta ton alumina per tahun — separuhnya diserap oleh INALUM, dan sisanya untuk ekspor.
“ANTAM punya cadangan bauksit besar dan bisa memasok bahan baku ke smelter INALUM. Ini memperkuat rantai industri dari hulu ke hilir, dari bauksit menjadi alumina hingga aluminium,” tutur Ferdy.
🏭 Hilirisasi Perkuat Ekonomi Nasional
Langkah hilirisasi tambang yang dijalankan MIND ID mendukung kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem logam terintegrasi. Sebelumnya, Indonesia mengekspor hingga 40 juta ton bauksit mentah ke Cina setiap tahun. Kini, orientasi bergeser ke produksi alumina dan aluminium bernilai tambah tinggi.
“Dengan kebijakan ini, perusahaan otomotif asing justru akan mengimpor alumina dari Indonesia kalau ingin tetap menjaga pasokan bahan baku,” kata Ferdy.
Transformasi ini menjadi tonggak penting menuju era industrialisasi baru Indonesia. Selain memperkuat struktur industri nasional, hilirisasi juga berpotensi menekan defisit perdagangan sektor manufaktur yang pada 2017–2024 mencapai US$4,3 miliar akibat impor komponen otomotif dan alat berat.
“Indonesia terlalu lama nyaman mengekspor bahan mentah. Padahal, nilai tambah sesungguhnya ada di tahap pengolahan,” tegas Ferdy.
💡 Dengan kekuatan produksi aluminium nasional yang terus tumbuh dan dukungan penuh pemerintah terhadap hilirisasi, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain kunci dalam industri otomotif global berbasis kendaraan listrik. Dikutip dari RRI.co.id
