Ketidakpastian Pasokan Iran dan Rusia Picu Kenaikan Harga Minyak
2 mins read

Ketidakpastian Pasokan Iran dan Rusia Picu Kenaikan Harga Minyak

Harga minyak dunia naik sekitar dua persen pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasokan global akibat eskalasi protes di Iran serta intensitas serangan terbaru dalam perang Rusia dan Ukraina.

Dilansir dari Investing.com, Sabtu, 10 Januari 2026, kontrak berjangka minyak Brent ditutup naik USD1,35 atau 2,18 persen ke level USD63,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD1,36 atau 2,35 persen menjadi USD59,12 per barel.

Kedua patokan tersebut juga mencatat kenaikan lebih dari tiga persen pada Kamis setelah dua hari berturut-turut mengalami tekanan. Secara mingguan, harga Brent tercatat naik sekitar empat persen, sedangkan WTI menguat sekitar tiga persen.

Kekhawatiran Pasokan dari Iran
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai situasi geopolitik di Iran menjadi faktor utama yang membuat pasar kembali tegang.

“Pemberontakan di Iran membuat pasar tegang,” ujar Flynn.

Kekhawatiran potensi gangguan produksi minyak Iran meningkat seiring dengan meluasnya kerusuhan sipil di negara Timur Tengah tersebut. Kepala analisis komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyebut protes yang terus membesar telah memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan.

Pemadaman internet nasional dilaporkan terjadi di Iran pada Kamis, menyusul protes atas kesulitan ekonomi yang meluas di Teheran, Mashhad, Isfahan, dan sejumlah wilayah lainnya.

Data survei menunjukkan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memproduksi 28,40 juta barel per hari pada bulan lalu, turun sekitar 100 ribu barel per hari dari revisi November. Iran dan Venezuela mencatat penurunan produksi terbesar.

Eskalasi Perang Rusia-Ukraina
Dari kawasan Eropa Timur, militer Rusia mengklaim telah menembakkan rudal hipersonik Oreshnik ke sejumlah target di Ukraina, termasuk infrastruktur energi yang mendukung kompleks industri militer Ukraina.

Meski demikian, analis menilai kenaikan harga minyak masih dibatasi oleh meningkatnya persediaan global. Haitong Futures menyebut kelebihan pasokan tetap menjadi faktor utama yang berpotensi menahan reli harga minyak, kecuali risiko geopolitik di Iran meningkat signifikan.

Fokus pada Minyak Venezuela dan AS
Di sisi lain, Gedung Putih dijadwalkan bertemu dengan perusahaan minyak dan perusahaan perdagangan untuk membahas potensi kesepakatan ekspor minyak Venezuela. Presiden AS Donald Trump menuntut akses penuh AS ke sektor minyak Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Chevron Corp, Vitol, Trafigura, dan sejumlah perusahaan lain disebut bersaing untuk memasarkan hingga 50 juta barel minyak yang dikumpulkan PDVSA di tengah embargo minyak yang ketat.

“Pasar akan fokus pada bagaimana minyak Venezuela yang tersimpan akan dijual dan dikirim dalam beberapa hari ke depan,” kata ahli strategi pasar Moomoo ANZ, Tina Teng.

Sementara itu, jumlah rig minyak dan gas AS turun dua unit menjadi 544 unit pada pekan ini, terendah sejak pertengahan Desember, menurut laporan Baker Hughes.

Dikutip dari metrotvnews.com