Kolaborasi Hexahelix, Kemenekraf Perkuat Ekosistem Creative Tech Nasional
2 mins read

Kolaborasi Hexahelix, Kemenekraf Perkuat Ekosistem Creative Tech Nasional

Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat ekosistem creative tech nasional melalui pendekatan sinergi hexahelix sebagai upaya menjawab tantangan perlambatan investasi global. Pendekatan ini menekankan kolaborasi antara pemerintah dan sektor bisnis, salah satunya melalui kemitraan strategis dengan perusahaan modal ventura East Ventures.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa ekonomi kreatif diyakini dapat menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pelaku industri dan investor dinilai menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual.

“Kami percaya ekonomi kreatif akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Karena itu, kolaborasi dengan pelaku industri dan investor menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem berbasis kekayaan intelektual,” ujar Teuku Riefky dalam keterangan resmi yang diterima, Sabtu.

Sinergi dengan Modal Ventura

Penguatan kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan audiensi antara Kemenekraf dan East Ventures yang berlangsung di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Jumat (9/1). Audiensi ini menjadi bagian dari program Dana Ekraf untuk pengembangan akses pendanaan, pembiayaan, dan investasi ekonomi kreatif, sekaligus tindak lanjut dari program Ekraf Tech Innovation Challenge.

Menurut Teuku Riefky, kehadiran East Ventures mencerminkan sinergi hexahelix antara pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas, media, dan lembaga pendukung inovasi dalam menjawab tantangan pembiayaan industri kreatif nasional.

“Kolaborasi hexahelix diperlukan agar inovasi teknologi dan talenta kreatif tetap memiliki ruang tumbuh yang berkelanjutan,” ujarnya.

Partner East Ventures Melisa Irene menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi pasar utama bagi investasi perusahaan modal ventura tersebut. Dari lebih dari 300 perusahaan portofolio East Ventures, sekitar 75 persen berada di Indonesia, sementara sisanya tersebar di Singapura dan sejumlah negara ASEAN.

Potensi Ekonomi Kreatif Digital

Dengan populasi sekitar 284 juta jiwa dan tingkat penetrasi internet mencapai 80,6 persen, Indonesia dinilai masih memiliki potensi besar dalam pengembangan produk digital. Sektor e-commerce, fintech, dan layanan berbasis aplikasi menjadi subsektor unggulan yang terus berkembang.

Kontribusi startup lokal juga tercatat signifikan. Startup on-demand di Indonesia telah menciptakan sekitar 588 ribu lapangan kerja serta memberikan tambahan pendapatan rumah tangga hingga Rp33,2 triliun. Capaian ini menegaskan peran ekonomi kreatif digital sebagai pendorong kesejahteraan masyarakat.

Peluang baru juga muncul dari berkembangnya startup berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pada 2024, sektor ini mencatat nilai investasi sekitar 542,9 juta dolar AS, yang diperkuat oleh dukungan lintas kementerian dan lembaga melalui berbagai program penguatan ekosistem inovasi nasional.

Dikutip dari antaranews.com