Parmonangan Tapanuli Utara Hadapi Ancaman Serius Krisis Pangan
Warga Kecamatan Parmonangan, Tapanuli Utara, diprediksi menghadapi krisis pangan dalam 3–6 bulan ke depan. Sebanyak 15.425 warga terancam kelaparan setelah banjir bandang dan longsor pada 24 November 2025 merusak lahan pertanian serta memicu gagal panen.
Gagal Panen Ancam Ketersediaan Beras Warga
Camat Parmonangan, Rianto Lumbantobing, menyampaikan kekhawatirannya terkait kondisi pangan di wilayah tersebut. Ia mengatakan bahwa padi sebagai sumber pangan utama mengalami kerusakan parah.
“Tiga atau enam bulan ke depan kami bisa kelaparan. Kami gagal panen,” ujar Rianto, Rabu (10/12/2025).
Rianto menuturkan bahwa persoalan ini telah dilaporkannya kepada Bupati Tapanuli Utara. Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan bantuan untuk mengantisipasi kekurangan beras yang mungkin terjadi.
“Ini sudah kita mintakan kepada pimpinan, karena ini jadi masalah ke depan. Padi banyak yang puso,” katanya.
Komoditas Perkebunan Ikut Terdampak
Selain padi, Kecamatan Parmonangan dikenal sebagai daerah penghasil kemenyan, sawit, karet, dan durian. Namun, kerusakan pada lahan pertanian membuat kekhawatiran akan potensi kelaparan semakin besar.
“Yang paling utama di sini persawahan. Bila rusak semua lahan persawahan, ya takutnya warga menjadi kelaparan,” ujarnya.
Rianto menegaskan bahwa pemerintah kecamatan berupaya mencari solusi agar masyarakat tidak kekurangan pangan. Meskipun saat ini warga masih menerima bantuan donasi, ia menilai bantuan tersebut tidak akan bertahan lama.
Stok Bantuan Terbatas, Bulog Diharapkan Turun Tangan
Rianto menyebutkan bahwa bantuan donasi yang telah terkumpul memungkinkan pemenuhan kebutuhan pangan untuk sementara waktu. Hingga kini, sekitar 14 ton beras telah disalurkan dan cukup untuk kebutuhan dua minggu.
“Kebutuhan untuk satu bulan ke depan saya pikir aman, tapi bulan ketiga sampai keempat itu yang rawan,” jelasnya.
Ia berharap Bulog dan Dinas Pertanian dapat membantu suplai pangan ketika bantuan donasi mulai berkurang dalam beberapa bulan mendatang.
Harapan Percepatan Pemulihan Lahan Pertanian
Rianto meminta percepatan pemulihan lahan-lahan yang rusak akibat longsor. Menurutnya, lahan yang hanya terdampak banjir masih bisa dipulihkan, namun lahan yang tertimbun longsor membutuhkan penanganan khusus.
“Masalahnya yang longsor inikan susah,” ujarnya.
Puluhan Keluarga Terdampak Kerusakan Sawah dan Hutan
Kepala Desa Huta Julu, Dogang Manalu, melaporkan bahwa 102 kepala keluarga terdampak kerusakan sawah. Selain itu, 99 keluarga mengalami kerusakan hutan, dan 39 keluarga melapor terdampak kerusakan pengairan persawahan.
Dikutip dari RRI.co.id
