Pasar Minyak Dunia Dilanda Surplus, Harga Masih Bergejolak
Harga minyak dunia kembali mencatat penurunan pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), melanjutkan tekanan harga yang sempat turun dua persen pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini dipicu perkembangan pembicaraan damai Rusia-Ukraina, prospek pasokan berlebih, serta antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Amerika Serikat.
Mengutip Yahoo Finance, Rabu, 10 Desember 2025, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,2 persen menjadi 62,37 dolar AS per barel. West Texas Intermediate (WTI) ikut melemah 0,1 persen ke level 58,80 dolar AS per barel. Sebelumnya, kedua harga acuan minyak ini juga tertekan lebih dari satu dolar pada perdagangan Senin setelah Irak kembali meningkatkan produksi di ladang minyak West Qurna 2 milik Lukoil, yang menjadi salah satu sumber produksi minyak terbesar dunia.
Di sisi geopolitik, Ukraina dilaporkan tengah menyiapkan proposal perdamaian yang telah direvisi untuk disampaikan kepada Amerika Serikat. Langkah tersebut dilakukan setelah dialog antara Presiden Volodymyr Zelenskiy dengan sejumlah pemimpin Eropa, yakni Prancis, Jerman, dan Inggris, berlangsung di London.
Kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan bahwa harga minyak masih berada dalam kisaran terbatas hingga terjadi kejelasan arah perundingan damai Rusia-Ukraina. Menurutnya, hasil negosiasi menjadi penentu pergerakan harga minyak dalam waktu dekat.
“Jika perundingan gagal, kami memperkirakan harga minyak akan naik. Namun jika ada kemajuan dan pasokan Rusia kembali pulih ke pasar energi global, harga dapat bergerak turun,” ujarnya.
Sementara itu, proyeksi surplus pasokan juga menjadi faktor utama yang membayangi pasar minyak ke depan. Analis ING memperkirakan pasar minyak global akan memasuki situasi surplus yang semakin besar pada 2026, seiring rencana OPEC+ mengakhiri pemangkasan produksi lebih cepat dan peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC.
Dalam laporan risetnya, ING memproyeksikan surplus pasokan mencapai lebih dari dua juta barel per hari pada tahun mendatang. Sementara permintaan global diperkirakan hanya akan tumbuh sekitar 800 ribu barel per hari. Kondisi ini diprediksi memberikan tekanan lanjutan terhadap harga minyak.
Pasokan global disebutkan berpotensi naik hingga 2,1 juta barel per hari pada 2026, sedangkan harga minyak mentah Brent diperkirakan akan bertahan pada rata-rata 57 dolar AS per barel.
ING juga memperingatkan bahwa meningkatnya persediaan serta pendalaman struktur contango dapat semakin menekan harga. Struktur contango menggambarkan kondisi pasar berjangka ketika harga kontrak berjangka lebih tinggi dibandingkan harga spot saat ini, sehingga kontrak untuk pengiriman masa depan menjadi lebih mahal seiring bertambahnya jatuh tempo.
Dengan berbagai tekanan fundamental tersebut, pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan moneter dan perkembangan situasi geopolitik untuk menentukan prospek harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.
Dikutip dari metrotvnews.com
