Pergerakan Harga Emas Global pada 19 November 2025 Cenderung Turun
Harga emas dunia menguat tipis pada awal perdagangan Rabu (19/11/2025) setelah berhasil rebound dari level terendah dalam sepekan pada sesi sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, emas spot naik 0,16% atau 6,67 poin ke level US$4.073,91 per troy ounce pada pukul 07.09 WIB, setara sekitar Rp2,17 juta per gram.
Sementara itu, emas berjangka Comex AS kontrak Desember 2025 tercatat menguat 0,24% atau 9,6 poin menjadi US$4.076,1 per troy ounce.
Didorong Data Ketenagakerjaan AS yang Melemah
Rebound harga emas terjadi setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pelemahan. Jumlah warga AS yang menerima tunjangan pengangguran meningkat ke level tertinggi dalam dua bulan pada pertengahan Oktober, dengan klaim lanjutan mencapai 1,9 juta pada pekan yang berakhir 18 Oktober 2025.
Analis dan trader logam independen Tai Wong mengatakan bahwa data ini meningkatkan optimisme pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember. “Data tersebut membantu emas dan perak yang tengah mencoba memutus tren penurunan tiga hari,” ujarnya kepada Reuters.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Menguat
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini menilai peluang 50% pemangkasan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve tanggal 9—10 Desember, naik dari prediksi 46% pada awal sesi. Meski demikian, angka ini masih lebih rendah dibandingkan proyeksi pekan lalu sebesar 67%.
Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas biasanya mendapat dukungan ketika suku bunga turun. Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi lebih dari 3% pada Jumat dan 1% pada Senin karena investor memangkas ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Pasar Menunggu Risalah The Fed dan Data Tenaga Kerja Terbaru
Fokus pasar kini tertuju pada rilis risalah rapat The Fed periode 28–29 Oktober yang dijadwalkan Rabu, serta laporan ketenagakerjaan resmi AS untuk September yang akan dirilis Kamis setelah sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan.
Dalam laporannya, analis Deutsche Bank menyebutkan bahwa permintaan resmi terhadap emas diperkirakan tetap kuat dalam jangka panjang. “Permintaan yang tinggi akan menopang bias bullish strategis dan membuka peluang harga bergerak di atas proyeksi rata-rata kami sebesar US$4.000 per ounce tahun depan,” tulis mereka.
Dikutip dari market.bisnis.com
