Pertanian Menyusut, DPR Peringatkan Ancaman bagi Industri Nasional
2 mins read

Pertanian Menyusut, DPR Peringatkan Ancaman bagi Industri Nasional

Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menilai pergeseran prioritas lahan dari industri dan sektor strategis lainnya menjadi perkebunan sawit dapat mengancam kedaulatan nasional, kelestarian lingkungan, serta kesempatan Indonesia dalam mengembangkan industri masa depan.

Menurut Novita, apabila seluruh lahan lebih banyak diprioritaskan untuk perkebunan sawit, Indonesia bisa kehilangan ruang inovasi yang diperlukan untuk mendorong tumbuhnya teknologi industri baru.

“Kita harus seimbang: ekonomi jalan, tapi lingkungan dan masa depan generasi kita tetap terlindungi,” ujar Novita dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Inovasi Teknologi Hijau Jadi Kunci

Novita menegaskan bahwa tantangan tata ruang, kebutuhan energi, dan perubahan iklim global menuntut Indonesia untuk mengambil langkah transformatif menuju ekonomi hijau. Ia menyebut inovasi teknologi ramah lingkungan sebagai solusi rasional agar negara mampu bersaing tanpa mengorbankan alam.

“Industri harus bertransformasi. Kita tidak bisa lagi bergantung pada SDA mentah. Kita harus menciptakan nilai tambah dengan teknologi tinggi dan energi bersih,” katanya.

Dorong Industri Mandiri dan Efisien

Novita menekankan perlunya lompatan besar dalam pembangunan nasional menuju industri yang mandiri secara bahan baku. Ketergantungan pada bahan bakar fosil dan eksploitasi sumber daya mentah perlu segera ditinggalkan.

Menurutnya, teknologi kendaraan listrik yang tidak lagi mengandalkan bensin bukan hanya menjadi tren dunia, tetapi sudah harus menjadi kebutuhan nasional di Indonesia.

“Kita harus berinvestasi pada industri masa depan yang lebih bersih, lebih efisien, dan tidak merusak lingkungan,” ujarnya.

Bangun Rantai Pasok Berkelanjutan

Selain aspek teknologi, Novita mengingatkan bahwa kekuatan rantai pasok bahan baku dalam negeri dengan standar keberlanjutan juga harus diprioritaskan. Tanpa itu, industri Indonesia akan terus terjebak dalam ketergantungan impor dan ancaman krisis pasokan.

“Pemasok bahan baku di dalam negeri harus kita siapkan. Standarnya harus hijau, berkelanjutan, dan tidak mengulang kesalahan masa lalu,” katanya.

Perencanaan Masa Depan Berwawasan Lingkungan

Novita meminta strategi nasional pembangunan industri harus memikirkan roadmap jangka panjang yang tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga aman bagi lingkungan.

Ia menekankan bahwa keputusan penting yang diambil saat ini akan memengaruhi kualitas hidup generasi mendatang. Oleh karena itu, dampak ekologis harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan industri.

Dikutip dari antaranews.com