Sate Bu Ngantuk Menjadi Legenda, Berawal dari Warung Sederhana
2 mins read

Sate Bu Ngantuk Menjadi Legenda, Berawal dari Warung Sederhana

Warung sate legendaris di Bandung bernama Warung Sate Bu Ngantuk tetap menjadi salah satu destinasi kuliner favorit bagi mahasiswa maupun masyarakat umum. Tempat makan sederhana ini dikenal luas karena cita rasa satenya yang khas serta harga yang terjangkau.

Pemilik generasi kedua warung tersebut, Nenden Novia, menceritakan asal-usul nama unik “Bu Ngantuk” yang kini melekat sebagai identitas usaha keluarga itu. Ia mengatakan, pada awalnya warung tersebut hanyalah warung sate Madura biasa yang dikelola oleh ibunya seorang diri.

Menurut Nenden, ibunya dulu berjualan hingga larut malam, bahkan sampai pukul satu atau dua dini hari. Karena sering terlihat mengantuk saat melayani pembeli, para mahasiswa yang menjadi pelanggan tetap akhirnya memberi julukan “Bu Ngantuk”.

Nama tersebut kemudian semakin dikenal dan akhirnya dipertahankan hingga sekarang sebagai ciri khas warung sate tersebut.

Dari Mahasiswa hingga Viral di Media Sosial

Pada masa awal berdiri, sebagian besar pelanggan Warung Sate Bu Ngantuk berasal dari mahasiswa di sekitar Universitas Katolik Parahyangan. Namun, seiring berkembangnya media sosial, pelanggan kini datang dari berbagai kalangan.

Warung ini menawarkan beberapa pilihan sate seperti sate ayam, sate sapi, dan sate kambing dengan harga yang relatif terjangkau. Satu porsi sate dijual seharga Rp15.000, sementara paket dengan nasi atau lontong dibanderol sekitar Rp20.000.

Meski harganya murah, setiap porsi terdiri dari sepuluh tusuk sate dengan harga yang sama untuk semua jenis daging.

Nenden menjelaskan bahwa salah satu daya tarik utama warung ini terletak pada bumbu kacangnya yang memiliki cita rasa legit dan gurih. Selain bumbu kacang, tersedia juga pilihan bumbu asin, asin pedas, hingga kecap yang dapat disesuaikan dengan selera pelanggan.

Untuk menjaga cita rasa otentik, keluarga tetap mempertahankan resep asli yang telah digunakan sejak awal berdirinya warung tersebut. Inovasi yang dilakukan hanya pada variasi rasa asin dan asin pedas yang mulai diperkenalkan sekitar sepuluh tahun terakhir.

Hingga kini, warung sate tersebut masih beroperasi di lokasi yang sama di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat. Banyak pelanggan lama yang kembali datang untuk menikmati kembali cita rasa khas sate Bu Ngantuk yang sudah mereka kenal sejak lama.