Tekanan Pasar Dorong Dolar AS Tergelincir
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap mata uang utama lainnya pada perdagangan Selasa, 16 Desember 2025, menyusul rilis data ekonomi tertunda yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve akan bersikap lebih berhati-hati dalam melanjutkan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Ekonomi AS tercatat menambah 64 ribu lapangan kerja pada November, melampaui estimasi para ekonom. Capaian tersebut terjadi setelah kehilangan 105 ribu lapangan kerja pada Oktober, berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS. Laporan ketenagakerjaan ini sempat tertunda akibat penutupan pemerintah federal AS selama 43 hari.
Mengutip Investing.com, Rabu, 17 Desember 2025, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama, termasuk euro dan yen, turun 0,11 persen ke level 98,15. Indeks ini berada di jalur penurunan untuk sesi kedua berturut-turut.
Dolar AS juga tercatat melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Terhadap franc Swiss, dolar turun 0,18 persen ke level 0,79475.
Ahli strategi FX dan makro Amerika di BNY, John Velis, menilai data ketenagakerjaan tersebut menunjukkan sinyal yang beragam. “Ada beberapa tanda positif dalam perekrutan dan hasilnya sedikit lebih baik dari perkiraan, tetapi tidak signifikan. Sisi negatifnya adalah tingkat pengangguran naik dari 4,4 persen menjadi 4,6 persen, yang berpotensi membuat The Fed lebih waspada pada Januari,” ujarnya.
Berdasarkan alat FedWatch dari CME Group, kontrak berjangka dana The Fed mencerminkan probabilitas sebesar 75,6 persen bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada 28 Januari. Angka tersebut meningkat dari sekitar 70 persen pada sepekan sebelumnya.
Velis juga menyoroti bahwa sebagian besar lapangan kerja baru tercipta di sektor non-siklikal, seperti perawatan kesehatan, yang menandakan aktivitas ekonomi siklikal masih terbatas.
Fokus pelaku pasar global pekan ini tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral utama. Bank Sentral Eropa (ECB) secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Kamis. Data ekonomi zona euro yang beragam dinilai mendukung kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dan turut menopang penguatan euro.
Euro menguat 0,05 persen menjadi USD1,1788 terhadap dolar AS, menyentuh level tertinggi sejak September dan berada di jalur kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut.
Di Inggris, Bank of England diperkirakan menghadapi pemungutan suara ketat terkait kebijakan suku bunga, dengan Gubernur Andrew Bailey disebut-sebut berpotensi memiringkan kebijakan ke arah penurunan suku bunga. Poundsterling menguat 0,39 persen menjadi USD1,34305, level tertinggi dalam dua bulan menjelang keputusan bank sentral tersebut.
Sementara itu, dolar AS melemah 0,36 persen menjadi 154,65 terhadap yen Jepang, seiring ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga, dengan peluang sinyal pengetatan lanjutan menjelang pembahasan upah musim semi.
Dikutip dari metrotvnews.com
