Wall Street Ditutup Melemah, Investor Berharap Efek Reli Santa Claus
2 mins read

Wall Street Ditutup Melemah, Investor Berharap Efek Reli Santa Claus

Indeks saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street mengakhiri perdagangan Jumat waktu setempat atau Sabtu WIB dengan pelemahan tipis setelah libur Natal. Mengutip laporan Xinhua pada Sabtu, 27 Desember 2025, ketiga indeks utama bergerak di zona merah seiring minimnya katalis pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 20,19 poin atau 0,04 persen ke level 48.710,97. Indeks S&P 500 melemah 2,11 poin atau 0,03 persen menjadi 6.929,94. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite turun 20,21 poin atau 0,09 persen ke posisi 23.593,1.

Pergerakan Sektor Saham

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, tujuh sektor ditutup melemah. Sektor barang konsumsi non-esensial dan sektor energi memimpin penurunan dengan masing-masing turun 0,44 persen dan 0,28 persen.

Sebaliknya, sektor material dan teknologi mencatatkan penguatan tertinggi. Sektor material naik 0,59 persen, sementara sektor teknologi menguat 0,21 persen dan menjadi penopang pergerakan indeks di tengah perdagangan yang relatif sepi.

Menanti Fenomena Reli Santa Claus

Mengutip Investing.com, pelaku pasar kini mencermati potensi terjadinya fenomena reli Santa Claus. Fenomena musiman ini biasanya ditandai dengan kenaikan indeks S&P 500 selama lima hari perdagangan terakhir di tahun berjalan dan dua hari perdagangan pertama di tahun berikutnya.

Pada 2025, reli Santa Claus diperkirakan dimulai pada perdagangan Rabu, 24 Desember 2025, dan berlanjut hingga 5 Januari 2026. Perdagangan Kamis, 25 Desember, tidak dihitung karena libur Natal. Secara historis, reli ini kerap menjadi sinyal positif bagi kinerja pasar saham di tahun selanjutnya.

Prospek Pasar Menjelang Akhir Tahun

Hingga akhir tahun, tersisa tiga hari perdagangan lagi di tengah kondisi pasar yang dinilai penuh gejolak. Sepanjang 2025, pasar saham diwarnai berbagai sentimen negatif, mulai dari kekhawatiran tarif, ketegangan geopolitik global, hingga lonjakan saham berbasis kecerdasan buatan yang memicu volatilitas tinggi.

Meski demikian, ketiga indeks utama Wall Street masih berada di jalur mencatatkan kenaikan persentase dua digit sepanjang tahun ini, dengan Nasdaq yang sarat saham teknologi memimpin penguatan.

Kepala ahli strategi pasar Carson Group, Ryan Detrick, menilai volatilitas merupakan konsekuensi dari peluang imbal hasil yang besar. Ia mengingatkan investor untuk tetap bersiap menghadapi dinamika pasar ke depan, termasuk potensi gejolak dan kabar negatif pada 2026.

Dikutip dari metrotvnews.com