Di Tengah Kepungan Asap Karhutla, Pedagang Palangka Raya Tetap Mencari Nafkah
Warga Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tetap beraktivitas dan berjualan di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski kualitas udara berada dalam kategori berbahaya dan jarak pandang kurang dari 100 meter, masyarakat terpaksa keluar rumah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jurnalis Metro TV Joy Jones melaporkan dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia, Rabu, 14 Oktober 2026, bahwa kondisi kabut asap telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Kabut yang semakin pekat membuat jarak pandang di sejumlah lokasi turun hingga kurang dari 100 meter.
Warga mengaku khawatir terhadap dampak buruk paparan asap bagi kesehatan. Namun, tuntutan ekonomi membuat mereka tetap harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan.
Menurut laporan Joy, warga merasa tidak memiliki pilihan lain karena jika tidak keluar mencari uang, mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pemadaman Karhutla Terkendala Luas Wilayah dan Tanah Gambut
Pemerintah kota, pemerintah provinsi, TNI, dan Polri telah melakukan berbagai upaya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Namun, luasnya wilayah kebakaran serta karakteristik tanah gambut menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Hingga laporan tersebut disampaikan, kabut asap masih menyelimuti Kota Palangka Raya. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat berlangsung di tengah ancaman penurunan kualitas udara dan terbatasnya jarak pandang.
Karhutla di Jambi Meluas hingga 8.000 Hektare
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi dilaporkan telah meluas hingga sekitar 8.000 hektare. Kebakaran terutama terjadi di Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Jurnalis Metro TV Randi Alfaras melaporkan bahwa dampak kebakaran tersebut juga dirasakan langsung hingga Kota Jambi.
Meluasnya karhutla di Kalimantan Tengah dan Jambi menunjukkan bahwa kebakaran lahan masih menjadi persoalan serius yang berdampak pada lingkungan dan aktivitas masyarakat.
