Jumat Pagi, Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp17.928 per Dolar AS
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat, 25 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.28 WIB, rupiah berada di level Rp17.928 per USD, terkoreksi 12 poin atau setara 0,07 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.916 per USD.
Sementara itu, mengutip data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah mencatatkan posisi Rp17.893 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memproyeksikan laju mata uang Garuda berpotensi bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada rentang Rp17.910 hingga Rp18.000 per USD hingga akhir sesi perdagangan.
Sentimen Hawkish The Fed dan Ketegangan Geopolitik AS-Iran
Ibrahim menjelaskan bahwa penekanan terhadap rupiah hari ini didorong oleh kombinasi faktor ketegangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter AS:
- Eskalasi Sentimen Moneter AS: Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Gubernur Michael Barr, menegaskan sikap hawkish dengan mengindikasikan perlunya penyesuaian suku bunga acuan guna meredam laju inflasi. Berdasarkan alat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober melonjak hingga 69,7 persen, naik signifikan dibanding pekan sebelumnya di posisi 48,7 persen.
- Dinamika Diplomasi AS-Iran: Perbedaan pandangan antara Teheran dan Washington mengenai skema penghentian konflik turut membayangi pasar. Pihak Iran meninjau pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade angkatan laut AS sebagai syarat utama, sementara otoritas AS menegaskan opsi militer tetap terbuka jika diplomasi belum menemukan kesepakatan.
Tantangan Eksternal dan Ketahanan Ekonomi Domestik
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate pada kisaran 5,75 persen dipandang para ekonom sebagai langkah antisipatif terhadap tingginya imbal hasil global, lonjakan harga minyak di atas USD100 per barel, serta potensi risiko El Nino pada pasokan pangan.
Di tengah tekanan arus keluar modal asing, daya tahan ekonomi domestik dinilai tetap terjaga. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, didukung oleh solidnya konsumsi rumah tangga dan stimulus fiskal pemerintah.
