Komisi X Dorong Perguruan Tinggi Tingkatkan Kualitas, Bukan Hanya Serap Tenaga Kerja
1 min read

Komisi X Dorong Perguruan Tinggi Tingkatkan Kualitas, Bukan Hanya Serap Tenaga Kerja

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja, namun tidak boleh direduksi hanya sebagai pencetak tenaga kerja.

“Kita sepakat pendidikan tinggi memang harus relevan dengan kebutuhan industri, tetapi perguruan tinggi tidak boleh hanya diposisikan sebagai pabrik tenaga kerja,” ujar Hetifah dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran strategis yang jauh lebih luas, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian kebudayaan, serta pembentukan daya kritis masyarakat.

“Fungsi kampus itu jauh lebih luas, membangun ilmu pengetahuan, menjaga kebudayaan, membentuk daya kritisi bangsa,” tuturnya.

Respons Evaluasi Prodi

Pernyataan tersebut disampaikan Hetifah sebagai respons terhadap rencana pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk mengevaluasi hingga menutup sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri.

Menurut Hetifah, kebijakan tersebut harus didasarkan pada kajian akademik yang kuat dan komprehensif, serta tidak semata-mata mengikuti tren jangka pendek.

Ia juga menolak pendekatan penutupan massal prodi. Sebagai alternatif, Hetifah mendorong transformasi melalui revitalisasi kurikulum, penguatan pendekatan interdisipliner, serta penyesuaian dengan potensi daerah.

“Pendekatan yang lebih tepat adalah transformasi, bukan penutupan massal, agar ruang keilmuan tidak semakin sempit,” tegasnya.

Perlindungan Mahasiswa dan Dosen

Hetifah menekankan pentingnya transparansi dalam proses evaluasi serta pelibatan seluruh pemangku kepentingan. Ia juga mengingatkan perlunya masa transisi yang adil bagi mahasiswa dan dosen agar tidak dirugikan.

“Mahasiswa dan dosen harus dilindungi karena kita tidak sedang mengelola angka, tetapi menentukan masa depan pendidikan dan peradaban bangsa,” ujarnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco menyampaikan bahwa pemerintah akan mendorong perguruan tinggi untuk memilah bahkan menutup prodi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Langkah tersebut diambil untuk mengurangi ketidaksesuaian antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri di masa depan.