Penguatan Rupiah Berlanjut, Naik 0,89 Persen hingga Hampir Tembus Rp17.600
2 mins read

Penguatan Rupiah Berlanjut, Naik 0,89 Persen hingga Hampir Tembus Rp17.600

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat signifikan pada pembukaan perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah sentimen positif setelah Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.13 WIB, rupiah berada di level Rp17.701 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 159 poin atau sekitar 0,89 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.860 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.916 per dolar AS.

Meski demikian, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan berlangsung fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.780 per dolar AS hingga Rp18.040 per dolar AS,” ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah keputusan Bank Dunia yang merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang dirilis pada April 2026 sebesar 4,7 persen.

Revisi tersebut mencerminkan kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 yang lebih kuat dari perkiraan. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tercatat mencapai 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, sekaligus menjadi pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak kuartal II-2021.

Kinerja ekonomi yang solid pada awal tahun didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga. Faktor pendorongnya antara lain momentum Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara, serta akselerasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Konsumsi tersebut didorong momen bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, pembayaran THR pegawai negeri sipil yang dipercepat, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” kata Ibrahim.

Sepanjang tahun 2026, konsumsi swasta diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5,0 persen dengan dukungan stimulus fiskal pemerintah. Sementara konsumsi pemerintah diproyeksikan meningkat lebih tinggi hingga 8,7 persen.

Di sisi lain, investasi juga menunjukkan tren positif. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada kuartal I-2026 tercatat tumbuh sebesar 6,0 persen, mencerminkan aktivitas investasi yang masih solid.

Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia direvisi naik, Bank Dunia tetap memberikan sejumlah catatan risiko. Salah satunya adalah ketergantungan terhadap konsumsi sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi jangka pendek yang berpotensi menekan ruang fiskal pemerintah.

Selain itu, meningkatnya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Ketahanan ekonomi domestik turut menghadapi tantangan dari sentimen pasar keuangan global, termasuk dampak evaluasi indeks MSCI yang dapat memengaruhi arus modal asing.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global dalam beberapa waktu ke depan.