Jaringan Irigasi Pertanian Diperkuat, Kementan Targetkan Swasembada
2 mins read

Jaringan Irigasi Pertanian Diperkuat, Kementan Targetkan Swasembada

Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian menyatakan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi pertanian terus dilakukan untuk mewujudkan swasembada beras nasional yang berkelanjutan.

“Pengelolaan air yang tepat bukan sekadar teknis semata, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan,” kata Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Ia menegaskan bahwa dengan perhitungan yang akurat, petani dapat memaksimalkan penggunaan air, menekan risiko kekurangan pasokan di musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Sinkronisasi Antar Kementerian

Hermanto menyampaikan bahwa Ditjen LIP secara konsisten menerapkan prinsip pengelolaan irigasi pertanian berkelanjutan melalui koordinasi dan sinkronisasi intensif dengan Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Ditjen Sumber Daya Air serta Balai Besar Wilayah Sungai dan Balai Wilayah Sungai di daerah.

“Melalui perbaikan jaringan irigasi tersier dan koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), distribusi air ke lahan pertanian dapat dijaga dengan baik,” ujarnya.

Upaya tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan Nasional yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2025.

Capaian Implementasi Instruksi Presiden

Dengan diterbitkannya Inpres tersebut, pemerintah mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada daerah irigasi yang sekitar 60 persen kondisinya dinilai kurang optimal dalam mendukung pasokan air persawahan.

Hermanto menjelaskan bahwa realisasi Inpres tahap pertama dengan target seluas 280.880 hektare telah mencapai 99,93 persen, sehingga memenuhi target yang ditetapkan.

Sementara itu, Inpres tahap kedua dengan target 225.775 hektare mencatat capaian pengerjaan sebesar 83,46 persen pada jaringan irigasi utama, 98,66 persen pada jaringan irigasi tersier, serta 92,25 persen pada pembangunan dan rehabilitasi Jaringan Irigasi Air Tanah.

Untuk tahap ketiga dengan target luasan 146.503 hektare, realisasi pelaksanaan jaringan irigasi utama mencapai 67,67 persen, jaringan irigasi tersier 87,57 persen, serta pembangunan dan rehabilitasi JIAT sebesar 93,91 persen.

“Ini adalah hasil kerja keras dan kolaborasi bersama Kementerian Pekerjaan Umum, termasuk dukungan kuat dari pemerintah daerah,” kata Hermanto.

Dampak terhadap Produksi Beras Nasional

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik, produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,77 juta ton atau meningkat 13,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut didorong oleh pertambahan luas panen hampir 13 persen, dengan potensi produksi padi mencapai 60,34 juta ton gabah kering giling.

Capaian ini menegaskan bahwa penguatan irigasi pertanian menjadi fondasi penting dalam menyediakan air bagi sektor pertanian, sehingga berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi beras dan ketahanan pangan nasional.

“Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya implementasi Inpres 2/2025 akan dilanjutkan dan diperkuat dengan kegiatan strategis lain seperti Optimasi Lahan dan Cetak Sawah Rakyat,” ujar Hermanto.

“Kegiatan tersebut akan terus diimplementasikan di seluruh wilayah Indonesia sebagai wujud komitmen Kementerian Pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan,” tambahnya.

Dikutip dari antaranews.com