Dolar AS Turun setelah Keputusan The Fed Menahan Suku Bunga
3 mins read

Dolar AS Turun setelah Keputusan The Fed Menahan Suku Bunga

Dolar Amerika Serikat (AS) mencatat pelemahan terbesar dalam hampir empat pekan setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu (29/7) waktu setempat. Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.

Berdasarkan data Investing, Kamis (30/7), indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,5 persen ke level 100,89.

Pelemahan dolar terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga dana federal di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Keputusan ini menjadi kali kelima secara berturut-turut bank sentral AS tidak mengubah tingkat suku bunga acuan.

Perbedaan Pendapat Warnai Keputusan The Fed

Meski keputusan mempertahankan suku bunga telah diperkirakan pasar, rapat FOMC kali ini diwarnai perbedaan pandangan di antara para pejabat Federal Reserve.

Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Fed Dallas Lorie Logan memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin karena masih melihat tekanan inflasi yang perlu diantisipasi.

Kepala Ekonom KPMG AS Diane Swonk menilai munculnya suara berbeda tersebut mencerminkan semakin kuatnya kelompok pejabat The Fed yang masih mendukung kebijakan moneter ketat.

Menurutnya, perbedaan pandangan itu dapat menjadi sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga kembali pada pertemuan September masih terbuka apabila tekanan inflasi belum mereda.

Dalam konferensi pers usai rapat, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan pembahasan internal FOMC berlangsung intensif dengan fokus pada empat isu utama, yakni inflasi yang masih bertahan, guncangan ekonomi terbaru, tekanan harga akibat kondisi tersebut, serta efektivitas instrumen kebijakan moneter.

Warsh juga menegaskan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS telah memberikan efek yang hampir setara dengan kenaikan suku bunga karena membuat biaya pinjaman bagi masyarakat dan dunia usaha menjadi lebih mahal.

Ia mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah meningkat lebih dari 14 basis poin sejak pertemuan The Fed pada Juni, mencerminkan optimisme terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat yang masih solid.

Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Di sisi lain, pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Jeda operasi militer antara Amerika Serikat dan Iran berakhir setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan melancarkan serangan terhadap pasukan AS yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump menyatakan militer AS berhasil menggagalkan serangan tersebut dan menegaskan Washington akan memberikan respons tegas terhadap setiap ancaman lanjutan.

Secara terpisah, militer AS juga mengumumkan telah melancarkan serangan presisi bersama angkatan bersenjata Arab Saudi terhadap kelompok proksi yang didukung Iran di Irak.

Meningkatnya kembali ketegangan tersebut membuat harga minyak dunia berbalik menguat setelah sebelumnya mengalami penurunan.

Euro, Poundsterling, dan Yen Menguat terhadap Dolar

Pelemahan dolar AS turut mendorong penguatan sejumlah mata uang utama dunia.

Euro naik 0,7 persen ke level USD1,1462, sedangkan poundsterling menguat 0,6 persen menjadi USD1,3361. Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Bank of England yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis.

Sementara itu, yen Jepang juga terapresiasi terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY turun 0,3 persen menjadi 163,41, menandai penguatan yen untuk hari keempat dalam enam hari perdagangan terakhir.

Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia justru melemah 0,3 persen ke level USD0,6953 setelah data inflasi menunjukkan kenaikan harga konsumen tahunan melambat menjadi 3,8 persen pada Juni dari sebelumnya 4,0 persen pada Mei. Secara bulanan, inflasi konsumen bahkan tercatat turun 0,1 persen, memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda.